Teruntukmu kekasihku,
apa kabar kau di sana?
Apa kau bisa melihat bintang benderang seperti yang pernah kau lihat bersamaku di sini?
Aku teringat ketika kita berjalan lewati malam.
Berdiam tanpa kata, namun hati kita saling bicara.
Kalbu kita berpagutan dalam satu rasa yang sulit terungkapkan.
Kau tersenyum padaku.
Senyum yang menghanyutkan segenap rasaku ke muara hatimu.
Seluruh kesadaranku hilang dan ingatanku hanya berpusat padamu.
Aku pun tersenyum padamu.
Senyum yang mengisyaratkan seluruh hasratku padamu.
Senyum penuh kerinduan yang tak terelakkan.
Malam itu adalah pertemuan pertama kita setelah kau pulang dari kembaramu.
Andai kau tahu… malam itu hatiku bergetar maha hebat.
Melihatmu di hadapanku, memandangku dengan mata yang bersinar.
Binar-binar kerinduan berpijaran dalam rongga-rongga malam.
Betapa aku sungguh merindukanmu…
Jarak yang selama ini memisahkan kita, hilang sekejap bak disihir peri-peri dari surgawi.
Hanya ada kau dan aku, dan kerinduan yang membuncah.
Namun kini, jarak itu kembali membelenggu kita.
Kau di sana, terpisahkan gunung dan samudera dariku.
Aku di sini, duduk termangu dalam keheningan penantian.
Kuhitung purnama-purnama yang harus kuhadapi.
Kupandangi bentangan hari yang harus kulewati.
Kuhayati detik-perdetik yang harus kulalui.
Semua itu terasa begitu berat…
Berat karena duniaku harus berputar tanpa dirimu.
Berat karena menahan rindu yang tak terperi di sanubari.
Oh, Tuhan, ternyata aku memang begitu rindu…
rindu tatapanmu,
rindu suaramu,
rindu segala kamu.
Andai Tuhan memberi sayap-sayap angin padaku,
setiap malam kan kukepakkan untuk menuju kamu.
Hanya untuk sekedar bertukar sapa,
“apa kabarmu? Apakah hari ini terkembang senyuman di bibirmu?”.
Kekasihku, begitu banyak yang ingin kukatakan padamu.
Begitu banyak cerita yang tak kita lewati bersama,
jejak-jejak hari yang kosong karena ketakberdayaan kita terhadap jarak.
Apakah aku sedih? Ya, tentu saja, kekasihku.
Setiap hari kumengais mentari agar segera tinggalkan siang,
dan mengundang malam agar segera datang.
Karena kutahu, dengan begitu satu hari telah mampu kulalui tanpa dirimu.
Tapi kau tak perlu khawatir, kekasihku… kesedihanku itu mudah sekali pergi.
Ia akan segera menguap begitu aku meingat bahwa kau akan segera kembali.
Kau akan segera berada di hadapanku, membawa pelangi terindah dari hatimu.
Kau dan aku, duduk berhadapan di tempat yang paling mulia,
saling berucap janji setia, kepada Tuhan pemilik kita.
Oh, indah sekali, bukan?
Maka, cepatlah kau kembali,
agar mimpi yang selama ini menari di ruang hati… berpendar menjadi nyata dan abadi.
Baik-baiklah kau di sana, kekasihku.
Titip hatiku yang hanya teruntukmu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar