Sabtu, 10 Januari 2009

hari kaki sedunia

Uh, lelahnya hari ini.

Aku pun beranjak pulang. Kuseret kakiku yang seakan tidak mau melangkah. Kakiku kaku, karena tadi kuhabiskan hari dengan naik turun tangga. Luar bisa. Kuliah di lantai 4 atau lima tanpa menggunakan lift. Karena lift hanya dua dan kebanyakan orang yang mengantri adalah ibu-ibu dan bapak-bapak. Sepertinya sedikit tidak tahu diri bila aku menyusup-nyusupkan diri di antara mereka yang umurnya berkepala lima ke atas. Maka, dengan jiwa mudaku (cieee), dengan high heelku, aku pun naik turun tangga dengan gagah perkasa, wuahaha. Hasilnya… sepertinya porsi mkn siangku akan lbh banyak nanti siang.

Setelah kuliah, aku harus mengajar di gedung yang letaknya di ujung kampus. Maka, dengan terseok-seok aku menuju ke sana. Setelah tiba di sana, ternyata aku harus mengajar di lantai tiga. OKEH. Me n my high heel siap beraksi! Aku pun naik tangga karena memang di gedung itu belum tersedia lift. Maka, aku pun tiba di kelas dengan peluh yang membasahi tubuh. Cape ya, bu? Kata mahasiswaku. Ah, ngga, ini sih biar dramatis saja, kataku.

Sehabis mengajar di kelas itu, aku pun harus mengajar di kelas lain, di gedung yang letaknya di bagian depan kampus. Maka, dengan langkah terseok-seok lagi, aku pun melangkah ke sana. Setiba di sana, aku ingat bahwa aku harus mengajar di lantai 5. OKEH. No more stair!! Aku pun berdiri di depan lift. Ting! Pintu lift terbuka. Ketika hendak masuk, tiba-tiba segerombolan mahasiswa datang menyalipku, dan wajah tak berdosa “mereka mengambil liftku!”. Hei, come’on, that’s my lift. OKEH. Kutunggu lift berikutnya. Lift pun datang. Tiba-tiba, segerombolan mahasiswa kembali datang dan mengambil liftku. Sungguh ajaib, dari mana datangnya mereka? Apakah mereka teman2nya doraemon yang bisa tiba2 muncul dr pintu ajaib? Sepertinya begitu. OKEH-OKEH. Jangan dikira aku tak punya kesabaran. Aku akan berdiri di sini, setia menanti, hingga liftku datang menghampiri. “Ngajar, neng?” Tiba-tiba, dosenku datang.” Muhun, bu”, kataku. “Ayo, naik tangga aja, sekalian olah raga, biar langsing”. “Maksudnyaaa??” (tapi kata yang ini hanya terucap dalam hati). Aku pun tersenyum dan dengan terpaksa menganggukkan kepala. Mulutku boleh tersenyum, tapi hatiku menjerit (tidaaaak). Maka, aku pun naik tangga bersamanya. “Mangga, ibu mah di lantai dua”, dan ia pun pergi. Ow, pantesan ngajakin naik tangga… orang beliau mah di lantai dua… OKEH! Perjuangan belum berakhir. Dengan sisa-sia tenanga, aku meneruskan perjuangan! Me n my high heel kembali beraksi. Aku pun naik tangga, menuju lantai lima yang berasa lantai tujuh belas. Memang, hidup itu tidak mudah, kawan!

Singkat cerita, setelah selesai kuliah, selesai ngajar, selesaai naik turun tangga, dan berdiri sekian ratus menit di depan kelas, kakiku sedikit mati rasa. Entah karena memang cape, entah karena aku memakai high heel yang tingginya cuman lima senti tapi berasa dua puluh senti. Tumitku berdenyut-denyut. Tiba-tiba, sol sepatuku tampak seperti paku. Kakiku lecet, betisku bengkak, dan telapkku kapalan. Mengapa wanita senang menyakiti diri sendiri dengan mengenakan sepatu seperti itu? Ckckck, sungguh merana! Tiba-tiba, perkataan temanku itu menyalak nyaring di kupingku. OKEH-OKEH. Kali ini dia benar. Ingin rasanya kulemparkan sepatuku ini ke jalan raya, tergilas motor, angkot, truk gandeng atau bahkan tank baja kalau ada, sehingga jadi rusak, gepeng dan bentuknya tak karuan. Jadi aku tidak akan terlalu merasa berdosa karena telah membuangnya… karena aku memang telah berdosa dengan merogoh saku cukup dalam untuk membelinya sepatu penjajahan itu.

Akhirnya, saat pulang pun tiba. Kulangkahkan kakiku menuju gerbang. Aku pun bergegas menuju angkot. Tiba-tiba, melintas bus di depanku. TING! Satu ide gila terbersit di benakku. Kenapa tak naik bus saja, toh aku sudah lama tidak naik bus, kangen juga! Karen aide gila itu, aku pun membulatkan tekad. Aku melangkah menuju bus, meski dengan perasaan takut. TAKUT? Ya. Aku takut naik bus. Aku punya pengalaman traumatis. Sewaktu masa kuliah dulu, aku adalah pelanggan tetap bus. Suatu pagi, aku naik bus yang penuhnya luar biasa. Jadi, aku berdiri di pintu. Ketika supir menancap gas, aku belum berpegangan, maka aku pun terpelanting ke luar bus. Seperti di sinetron-sinetron, tiba-tiba waktu berjalan serasa lambat. Semua bergerak dengan efek slow motion. Untung waktu itu ada aa-aa yang dengan sigap menangkapku seperti adegan dalam film2 Hollywood dan Bollywood. Ia menyokong tubuhku (yang tentunya beratnya melebihin dirinya). Ia menarikku kembali ke dalam bus. Ia pun berdiri di hadapanku, seolah melindungiku agar tidak tersungkur lagi seperti tadi. Dan aku, hanya bengong seperti orang tolo karena shock yang luar biasa. Sesampainya di kampus, aku jadi seperti orang bego. Aku hanya duduk dikerubungi teman-temanku yang heboh tak karuan. Dan, aku tersadar setelah salah temanku mencubit pipiku. “Woi, sadar woi”, katanya. “Aduh, di mana ieu?”, kataku. “Di kampus, odse!”, katanya. “Kok, nggak ngucapin ma kasih, sih?”, lanjutnya. Damn! Aku lupa. “Yah, padahal cakep loooh!”, ujar temanku lirih. Daaaaaaaamn! “Mana orangnya?” Aku celingukan. “Tadi sih nungguin di sini, tapi udah pergi tuh, ka Bagdad meureun! BT kayaknya dicuekin! Odse… odseee”, temanku menghela napas panjang, seolah telah melewatkan undian berhadiah dua milyar. (ZEEEET). Mari kita kembali ke masa kini. Dengan langkah terseok, aku naik ke dalam bus. ZOWENG! Ternyata, busnya penuh luar biasa. Aku tak kebagian tempat duduk. Mau turun lagi, busnya sudah berjalan. Mau loncat, aku tak punya keberanian. Maka, berdirilah aku di tengah-tengah kesesakkkan itu, dengan kaki bengkak dan kesemutan. OKEH. Mungkin nanti di perjalanan, ada orang turun dan aku jadi bisa duduk. OKEH. Biasanya di Setiabudhi depan ada yang turun. Setiabudhi telah lewat, belum ada orang yang turun. OKEH. Mungkin di sukajadi. Sukajadi lewat, belum juga ada yang turun. OKEH. Mungkin nanti di RSHS. RSHS lewat, belum jugaaa ada yang turun. Tumitku sudah berdenyut-denyut, dan aku masih berdiri bergelantungan pada tiang. OKEEEH. Mungkin di pasir Kaliki. Pasir kaliki lewat, dan orang-orang tetap diam. Astagfirulloh. Kenapa tiba-tiba orang-orang jadi betah di dalam bus? OKEH. Mungkin nanti di Pasar baru. Pasar baru lewat, dan masiiiih beluuuum jugaaa ada yang tuuuruuun. OKEH. High heelku sudah berasa menjadi paku. Ia menusuk-nusuk telapakku. OKEEEEH. Mungkin di dalem kaum, kebon kalapa, tegalega……… dan hingga aku turun, orang-orang tetap belum ada yang turun. OKEH. SILAHKAN DUDUK SAJA SAMPAI BESOK! Maka, hari itu aku nobatkan sebagai HARI KAKI SEDUNIA!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar