Sabtu, 10 Januari 2009

hari tugas sedunia tapi tidak seakherat kok...

Dua hari kemarin aku begadang. Mengerjakan tugas-tugas kuliah yang menumpuk, yang harus dikumpulkan minggu ini, dengan tenggat waktu besok! Sebenarnya aku memang telah diberi waktu untuk mengerjakannya selama pekan sunyi. Kami diberi waktu libur satu minggu untuk mengerjakan tugas dan belajar menghadapi ujian. Tapi… namanya juga mahasiswa, liburan is a holiday, and holiday is a really holy holiday. Jadi ya tetap, sifat orang Indonesiaku keluar, mengerjakan tugas pas detik-detik terakhir (heheee).

Dengan mata teler dan hidung meler, aku bekerja keras mengerjakan tugas. Alhamdulillah, selesai juga. Bukankah orang kita memang akan keluar kemampuan maksimalnya ketika berada dalam tekanan? Yup, itu memang benar. Terbukti padaku. Bila sedang dikejar deadline, tiba-tiba aku merasa menjadi manusia yang lebih cerdas dua kali lipat. Meski entah kecerdasan itu berbanding lurus dengan “kebenaran” atau “keasal-asalan”. Yang penting semuanya senang. Aku senang, professor senang, dan teman-temanku pun senang (karena tak perlu lagi menerima smsku di tengah malam buta untuk menanyakan tugas), pokoknya di sini senang di sana senanglah…

Aku pun pergi ke kampus sekitar pukul tiga, karena tugas paling lambat dikumpulkan magrib. Aku tiba pukul empat, karena memang sengaja agar aku bisa nge-print dulu di rental (karena ajaibanya, tinta printerku habis yang padahal baru diisi. Hhhmmm…. Tak kusangka ternyata sekarang ini printer pun bisa terkena dehidrasi sehingga menyedot tinta lebih banyak). Aku pun tiba di rental pukul empat. Ketika aku hendak nge-print, ternyata komputernya masih dipakai. “Sebentar ya, teh”, kata teteh yang sedang ngeprint itu. Baiklah, tak apa, toh aku masih punya waktu dua jam. Lima menit berlalu. “Sebentar ya, teh” lanjutnya. Tampaknya ia masih mengedit makalahnya. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Tiga puluh menit berlalu dan ia masih mengedit. Kesabaranku mulai terkikis. “Aduh, maaf ya, teh. Sekarang saya print, kok. Maaf, ya”, lajutnya. Luluhlah hatiku melihat wajah polosnya. “Nggak, apa-apa kok. Emang ngeprintnya berapa lembar?”, tanyaku. “Nggak banyak, kok. Cuman lima puluh lembar”, ia nyengir. WHAT???

Pukul lima lebih lima, aku keluar dari rental dengan tergesa. Aku pun segera menuju foto-kopian untuk menjilid makalah dan langsung menuju kost-an koordinator makalah. Aku berlari sekuat tenaga. Hujan mengiringiku, hingga keadaan menjadi lebih dramatis seperti dalam film-film India (hanya bedanya, aku tidak bernyanyi… sebab takut disangka orang stress, yang menyebabkan kegegeran kompas kampus esok hari, dengan tagline “seorang mahasiswa diangkut ke RS jalan Riau 11 karena menderita penyakit gilasus makalahnes”.

Sesampainya di sana (di kostan coordinator bukan di RS Riau 11), sepertinya wajahku sudah tak berbentuk. Keringat bercucuran. Kerudung menyon-menyon. Kepala cekot-cekot. Dan, kaki senut-senut. Koordinatorku hanya tersenyum, “cape, teh Neng? Habis dari mana lari-lari?”. “Dari Hongkong!”, kataku BT. Ia hanya tergelak. Temanku datang. Ia pun baru mengumpulkan. “Ih, si teteh baru ngumpulin juga?”, tanyanya. “Nggak. Aku mah ke sini teh mau darmawisata!”, jawabku sebal. Ia terbahak. “Tugas yang lain, tugas struktur, udah?”, lanjutnya. “Ya ampun, dikau meragukanku?... Ya belumlah, guee gitu loooh”, jawabku. “Si teh Irma, udah?”, tanyanya lagi. “Tadi sih belum ”, jawabku. “Ih, kasihan ya teh Irma”, lirihnya. “Kenapa?”, aku bingung. “Bergaul sama teteh jadinya kabawakeun….”. MAKSUD LOOOOOO?!!!! Semua menahan tawa. Ma kasih ya teman-teman, atas sindirannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar