Senin, 02 November 2009

i dont want to miss a thing

Melihatmu... memejamkan mata,
melepaskan lelah setelah melawan hiruk pikuknya dunia,
melupakan penat setelah menantang dunia dgn perkasa.

Melihatmu... memejamkan mata,
membuatku menyadari betapa Tuhan begitu Maha Mengasihi
memberiku waktu untuk melihat semua hal itu.

Tidurlah, kang...
beri kenyamanan untuk ragamu, beri ketenangan untuk hatimu.
Aku di sini... akan selalu bernyanyi untukmu,
menemanimu lewat sela-sela mimpi yang syahdu.

Ini nyanyianku untukmu...

I Don't Want To Miss A Thing (aerosmith)

I could stay awake just to hear you breathing
Watch you smile while you are sleeping
While you're far away dreaming
I could spend my life in this sweet surrender
I could stay lost in this moment forever
Every moment spent with you is a moment I treasure

Don't want to close my eyes
I don't want to fall asleep
Cause I'd miss you baby
And I don't want to miss a thing
Cause even when I dream of you
The sweetest dream will never do
I'd still miss you baby
And I don't want to miss a thing

Lying close to you feeling your heart beating
And I'm wondering what you're dreaming
Wondering if it's me you're seeing
Then I kiss your eyes
And thank God we're together
I just want to stay with you in this moment forever
Forever and ever

Don't want to close my eyes
I don't want to fall asleep
Cause I'd miss you baby
And I don't want to miss a thing
Cause even when I dream of you
The sweetest dream will never do
I'd still miss you baby
And I don't want to miss a thing

I don't want to miss one smile
I don't want to miss one kiss
I just want to be with you
Right here with you, just like this
I just want to hold you close
Feel your heart so close to mine
And just stay here in this moment
For all the rest of time

Don't want to close my eyes
I don't want to fall asleep
Cause I'd miss you baby
And I don't want to miss a thing
Cause even when I dream of you
The sweetest dream will never do
I'd still miss you baby
And I don't want to miss a thing

Don't want to close my eyes
I don't want to fall asleep
I don't want to miss a thing

Selasa, 20 Oktober 2009

hmm

aku... lelah...

Kamis, 15 Oktober 2009

titik... titik...

masih bisakah kita duduk dan bicara?

aku... rindu kamu.

duenue

aku dengan egoku
kau dengan duniamu
bak dua sisi mata uang yang selalu bersisian, tp sulit untuk bertemu

kuharap kita sama-sama mengerti,
karena sekarang ini...
tak ada lagi aku
tak ada lagi kau
yang ada hanya... kita.

Jumat, 11 September 2009

my due

Nobody knows, why our mind full with a beautiful dreams bout tomorrow.

Nobody can tell, why you and me keep our heart in one place like a fully lovely shell.

But I believe… that everything happened for a reason.

Everything has a mate to complete each other like a season.

Thank you for making my world full of gorgeous sparkles.

N thank you God, sent you as my guardian angle.

Selasa, 01 September 2009

kutatap hujan

kutatap hujan lewat jendela,
tiba-tiba selaksa kerinduan menyeruak dalam benak,
mengalir melewati urat nadi,
merasuk ke dalam sanubari lewat relung2 hati.

kutatap hujan lewat jendela,
ia tetap bermain-main seperti bocah usia dini,
tak peduli bahwa aku mati suri,
digerogoti rindu yang kusimpan dalam kelam pikiran.

kutatap hujan lewat jendela,
ia tetap datang dan tak mau pergi,
terus menari-nari membayangi mata dan hati,
seperti kau dan rasa rindu ini,
yang terus menggamitku dalam mimpi2 surgawi.

kutatap hujan… dan kini ia menatapku…
“ kan kusampaikan rindumu”, lirihnya seraya tersenyum padaku.

Apakah telah sampai padamu?


- catatan yg pernah kusampaikan pada hujan, untukmu... my due -

- due -

sungguh...
berapa kali hatimu bisa tersentuh?
teramat langka bukan?
butuh kekuatan teramat dahsyat untuk bisa melakukannya.
dan subhanalloh, Tuhan telah menurunkan kekuatan itu pada-mu... untuk.... bisa meyentuh hatiku...

Minggu, 30 Agustus 2009

hmmm...

tak tahukah kau,
aku... terluka...

Sabtu, 29 Agustus 2009

kostum bikin binun... @#$%^%$

Kejadian ini terjadi beberapa hari yang lalu. Begini ceritanya: (serasa sinetron, yah? :D )

Pada hari itu aku mendapat kabar bahwa besok aku harus mengantar-ngantar dan menunggui mahasiswa baru yang beratus orang itu, dari pagi (yang tidak terlalu buta) hingga sore hari. waw, menyenangkan sekali bukan? apalagi ini sedang bulan puasa. menyenangkaaan sekaliiii... sampai-sampai aku tak berhenti bertepuk tangan untuk menyambutnya, horeeee …. Gubrak!

Untuk masalah antar-mengantar dan tunggu-menunggu tak terlalu menjadi kendala bagiku, yang menjadi kendala adalah BESOK AKU MEMAKAI KOSTUM APA???

Aku bingung sekali. Mau memakai kaos dan jeans seperti biasa, takut disangka maru (yang tidak lulus spmb tiga kali pastinya). Mau memakai batik, takut disangka mau kondangan. Mau pakai gamis, tapi aku tak punya satu pun (dan tak mungkin meminjam punya mamah, selain karena longgar luar biasa, aku takut tertangkap basah oleh teman-teman pengajiannya yang sedang mengenakan gamis yang sama... “aduh, bade gambusan yeuuhhh”, pasti itu ucap mereka). Mau memakai baju olah raga, takut disangka Vicky Burki... apa kata orang nanti? (moso vicky burky perutnya offside?).

Karena kebingungan sudah mencapai ubun-ubun (lebaaay), maka aku pun bertanya pada akang:

n: besok pakai kostum apa, yah? (serius)

a: kebaya aja (tiis)

n: alim ah, bisi geulis

a: ....

dan akang tidak menjawab lagi. Mungkin ia sedang merenung dan berpikir... kemana ia harus membawaku untuk mengobati penyakit narsisku yang sedikit akut :p.

zeeeeet. Baiklah, kita coret saja kemungkinan untuk memakai kebaya. Karena, aku takut disangka mbok-mbok penjual jamu yang menyusup untuk mengedarkan jamu-jamu ilegal cap nyonya nyengir. Maka, aku pun membongkar isi lemariku. Baiklah, ada apa di sana? Ada baju tentunya, masa ada gajah.

Lalu, kucoba satu-persatu baju yang tersimpan tak rapi di lemariku. OK, yang ini terlalu feminim, yang ini terlalu sporti, yang ini terlalu seksi (waeee), yang ini terlalu taun 70-an, yang ini terlalu mamah dedeh, yang ini terlalu dan terlalu dan terlalu... aduh, jadi binuuuunnnn.

Dan kebingungan seperti ini bukan terjadi untuk yang pertama kalinya. Dan aku percaya, kebingungan ini pun bukan hanya terjadi padaku, tapi hampir pada setiap wanita (bukan maksud menyamaratakan ya bo, tapi hampir loh… hampir).

Dan, mengapa hal ini sering terjadi pada kaumku? Entahlah, tapi biasanya sih penyebabnya karena kurang adanya rasa percaya diri. Takut tidak baguslah, takut tidak cantiklah, takut anggapan oranglah, dsb... dsb...

Sebenarnya, apapun yang kita kenakan, akan terlihat bagus dan cantik, bila kita nyaman dan pd memakainya. Bila kita sudah merasa nyaman dengan diri kita sendiri, maka orang lain pun akan merasa nyaman melihat kita. Jadi sebenarnya, bagus dan tidak bagus itu sugesti. Baiklah, kuberi contoh sedikit:

“ Ada seorang temanku yang hobi sekali memakai baju-baju yang aneh (menurut orang lain dan bahkan terkadang juga menurutku – tapi tidak menurutnya). Kadang ia memakai baju ala gipsi yang berlengan besar (saking besarnya hingga bisa muat tiga tangan manusia dewasa), kadang ia memakai baju bermotif abstrak yang mirip seperti baju tidur orang-orang Afrika, kadang ia memakai kemeja irlander overdombret (itu loh, kemeja-kemeja berkerah renda-renda besar yang bila tidak hati-hati memakainya bisa mencekik leher), bahkan terkadang ia mengenakan rompi yang mirip celemek dapur ibuku. Tapppiiii…. karena ia merasa PD dan nyaman mengenakannya, maka orang-orang di sekitarnya pun mengeluarkan respon yang positif ketika melihat ia mengenakan baju-baju itu. Tentu saja itu hal itu terjadi karena dia mengeluarkan aura yang positif dari dirinya. Dengan keunikannya itu, ia malah mendapatkan tanggapan seperti “ih, bajunya lucu”, “ih, unik deh”, “wah, ternyata baju kek gini keren juga” dsb… dsb.”

Dari contoh kasus yang sudah dipaparkan di atas (cieeee), maka bisa kita simpulkan bahwa apa pun baju yang kita kenakan, selama kita merasa nyaman, makan orang lain pun akan merasa nyaman melihatnya. Bila kita positif terhadap diri sendiri, tentu orang lain pun akan cenderung merespon positif pula. Jangan memaksakan diri untuk mengenakan sesuatu yang tidak kita inginkan, yang malah akan mengaburkan idendtitas diri dan membuat diri menjadi tak nyaman. So, jangan ragu untuk mengenakan baju yang sesuai dengan karakter dirimu… be yourself n love yourself!

Jadi, apa yang kukenakan untuk acara hari itu? Tentu saja… kemeja putih, cardigan, dan jeans hitam… dan hasilnya… seperti biasa, tak ada yang menyangka aku adalah pengajar di sana (tapi setidaknya, aku tidak disangka sales penjual donat :P). Tapi tak apalah, yang penting kita merasa nyaman, bukan? Hehee.

Kamis, 27 Agustus 2009

judul-judulan

judul blog ini adalah catatan harianku.
judul yang aneh bukan?
aneh karena apa?
karena.... saya tidak menulis di sini setiap hari, tidak juga setiap minggu, dan tidak juga setiap bulan. saya hanya menulis di sini hanya bila saya sedang ingin (ingin menulis tentunya, bukan ingin makan. karena bila saya ingin makan... tentu saya akan pergi ke warung.... warung makanan tentunya, bukan warung remang-remang... karena kalau remang-remang, itu adalah cuaca.... hahaa... lieurrrr ah :P )

o iya, mengapa dipilih diksi "harianku" untuk menemani kata "catatan". karena bila saya memilih diksi "finansialku", kesannya saya adalah tukang kredit (yg padahal bukan, tapi kalau kreditur sih iya - suka mengkredit maksudnya :D). bila diksinya "si boy" maka akan menjadi catatan si boy... perasaan seperti film2 tahun 90-an ya? padahal kan saya belum lahir pada masa itu :p. maka pilihan pun jatuh kepada "harianku".... karena sederhana, mudah dimengerti, hemat listrik dan bebas biaya tambahan (naooon sih? :P)

bandung-jakarta cuman setengah jam aje :D

bila menurut orang-orang konon perjalanan bandung jakarta via cipularang itu hanya dua jam, itu tidaklah benar. buktinya, tadi aku melakukannya dan hanya memakan waktu setengah jam saja. apa rahasianya? mudah saja. masuk tol pasteur, pejamkan mata, dan silahkan buka kembali mata anda setelah memasuki tol dalam kota jakarta. setengah jam saja dan kita sudah akan berada di hiruk pikunya ibu kota. cepat sekali bukan? seakan kita punya jam putar versi harry potter yang bisa mengerucutkan waktu, dari dua jam menjadi setengah jam. subhanalloh, perjalanan yang benar-benar tak terasa (kata yang numpang, bukan kata yang nyupir):P

nb. tp ingat, bangunlah ketika sudah memasuki tol dalam kota. jangan sekali-kali keterusan memejamkan mata alias bobo, atau anda akan dibawa pulang kembali ke bandung oleh bis yang membawa anda (alhamdulillah, saya belum pernah mengalaminya - dan jangan sampai mengalaminya- karena biasanya, saya memasang alarm di dalam bis atau travel yang saya tumpangi, hehee).

Senin, 12 Januari 2009

grow a day older

Grow a Day Older

See the sunrise
Know its time for us to pack all the past
And find what truly lasts
If everything has been written down, so WHY WORRY, we say
Its you and me with a little left of sanity
If life is ever changing, so WHY WORRY, we say
Its still you and I with a silly smile as we wave goodbye
And how will it be? Sometimes we just cant see
A neighbor, a lover, a joker
Or friend you cant count on forever?
How tragic, how happy, how sorry?
For all we know, we’ve come this far not knowing why
So, would it be nice to sit back in silence?
Despite all the wisdom and the fantasies
Having you close to my heart as I say a little GRACE
Im thankful for this moment cause
I know that you
Grow a day older and see how this sentimental fool can be
When she tries to write a birthday song
When she try so hard to make your day
When she’s getting lost in all her thoughts
When she wait a whole day TO SAY………..
Im thankful for this moment cause I know that i
Grow a little day older and see how this sentimental fool can be
When he aches his arm to hold me tight
When he picks up lines to make me laugh
When he’s getting lost in all his calls
When we cant wait TO SAY: I love you.

If everything has been written down, so WHY WORRY, we say
Its you and me with a little left of sanity.
(Dee)

Minggu, 11 Januari 2009

???

aku merengkuh angin
ternyata yang kudapat hanyalah kehampaan...
ia tak ada...
atau, tak mau ada untukku.
ia terus berlalu,
tak mengindahkanku,
bertiup ke arah yang aku tak tahu...

Sabtu, 10 Januari 2009

hari tugas sedunia tapi tidak seakherat kok...

Dua hari kemarin aku begadang. Mengerjakan tugas-tugas kuliah yang menumpuk, yang harus dikumpulkan minggu ini, dengan tenggat waktu besok! Sebenarnya aku memang telah diberi waktu untuk mengerjakannya selama pekan sunyi. Kami diberi waktu libur satu minggu untuk mengerjakan tugas dan belajar menghadapi ujian. Tapi… namanya juga mahasiswa, liburan is a holiday, and holiday is a really holy holiday. Jadi ya tetap, sifat orang Indonesiaku keluar, mengerjakan tugas pas detik-detik terakhir (heheee).

Dengan mata teler dan hidung meler, aku bekerja keras mengerjakan tugas. Alhamdulillah, selesai juga. Bukankah orang kita memang akan keluar kemampuan maksimalnya ketika berada dalam tekanan? Yup, itu memang benar. Terbukti padaku. Bila sedang dikejar deadline, tiba-tiba aku merasa menjadi manusia yang lebih cerdas dua kali lipat. Meski entah kecerdasan itu berbanding lurus dengan “kebenaran” atau “keasal-asalan”. Yang penting semuanya senang. Aku senang, professor senang, dan teman-temanku pun senang (karena tak perlu lagi menerima smsku di tengah malam buta untuk menanyakan tugas), pokoknya di sini senang di sana senanglah…

Aku pun pergi ke kampus sekitar pukul tiga, karena tugas paling lambat dikumpulkan magrib. Aku tiba pukul empat, karena memang sengaja agar aku bisa nge-print dulu di rental (karena ajaibanya, tinta printerku habis yang padahal baru diisi. Hhhmmm…. Tak kusangka ternyata sekarang ini printer pun bisa terkena dehidrasi sehingga menyedot tinta lebih banyak). Aku pun tiba di rental pukul empat. Ketika aku hendak nge-print, ternyata komputernya masih dipakai. “Sebentar ya, teh”, kata teteh yang sedang ngeprint itu. Baiklah, tak apa, toh aku masih punya waktu dua jam. Lima menit berlalu. “Sebentar ya, teh” lanjutnya. Tampaknya ia masih mengedit makalahnya. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Tiga puluh menit berlalu dan ia masih mengedit. Kesabaranku mulai terkikis. “Aduh, maaf ya, teh. Sekarang saya print, kok. Maaf, ya”, lajutnya. Luluhlah hatiku melihat wajah polosnya. “Nggak, apa-apa kok. Emang ngeprintnya berapa lembar?”, tanyaku. “Nggak banyak, kok. Cuman lima puluh lembar”, ia nyengir. WHAT???

Pukul lima lebih lima, aku keluar dari rental dengan tergesa. Aku pun segera menuju foto-kopian untuk menjilid makalah dan langsung menuju kost-an koordinator makalah. Aku berlari sekuat tenaga. Hujan mengiringiku, hingga keadaan menjadi lebih dramatis seperti dalam film-film India (hanya bedanya, aku tidak bernyanyi… sebab takut disangka orang stress, yang menyebabkan kegegeran kompas kampus esok hari, dengan tagline “seorang mahasiswa diangkut ke RS jalan Riau 11 karena menderita penyakit gilasus makalahnes”.

Sesampainya di sana (di kostan coordinator bukan di RS Riau 11), sepertinya wajahku sudah tak berbentuk. Keringat bercucuran. Kerudung menyon-menyon. Kepala cekot-cekot. Dan, kaki senut-senut. Koordinatorku hanya tersenyum, “cape, teh Neng? Habis dari mana lari-lari?”. “Dari Hongkong!”, kataku BT. Ia hanya tergelak. Temanku datang. Ia pun baru mengumpulkan. “Ih, si teteh baru ngumpulin juga?”, tanyanya. “Nggak. Aku mah ke sini teh mau darmawisata!”, jawabku sebal. Ia terbahak. “Tugas yang lain, tugas struktur, udah?”, lanjutnya. “Ya ampun, dikau meragukanku?... Ya belumlah, guee gitu loooh”, jawabku. “Si teh Irma, udah?”, tanyanya lagi. “Tadi sih belum ”, jawabku. “Ih, kasihan ya teh Irma”, lirihnya. “Kenapa?”, aku bingung. “Bergaul sama teteh jadinya kabawakeun….”. MAKSUD LOOOOOO?!!!! Semua menahan tawa. Ma kasih ya teman-teman, atas sindirannya.

catatan orang bodoh

Catatan orang bodoh #1


Hidupku hanya sekilat mata

Jalanku hanya menuju-Mu

Tapi mengapa kusia-siakan waktuku?

Aah, bodohnya aku…

*********

Catatan orang bodoh #2


Di antara rintik-rintik anak hujan,

kutergenang air mata.

Kerinduan itu tak tertahankan,

memuncak bergulung di ubun-ubun

Ya, Robb… aku sangat-sangat rindu pada-Mu

Pantaskah… aku?


*********

Catatan orang bodoh #3


Cinta memang kadang menyiksa

Cinta memang kadang mengganggu

Tapi, cinta membuat kita merindu

membuat senyum terpaku dibibirku

Aku benar-benar cinta pada-Mu

Cinta mati pada Sang Maha Cinta-ku…

Bila nanti kita bertemu,

semoga ku masih berada di jalan-Mu…

kita

- kita-

Pandangilah langit malam ini, kawan
Di sana terpeta semua rasa

Ada canda, tawa, bahkan air mata

Jiwa kita bertautan
Hati kita berpagutan
Kau dan aku… menari mengitari rotasi bumi

Kau rangkul jiwaku,
Kau hapus peluh resahku,
Kau… tumbuhkan sayap di punggungku agar kubisa terbang menggapai matahariku

Kita jatuh bersama
Kita bangkit bersama
Kita… menari bersama bak peri-peri di alam surgawi…

Semua angan tlah tergenggam
Semua mimpi tlah tertapaki
dan
Semuanya terbalut dalam satu jubah kata…
“persahabatan”
Itulah kita…
Indah, bukan?


catatan kamarku'08

Demi Luka

DEMI LUKA

“ Wi, aku akan pulang telat hari ini. Di kantor ada meeting”
“ Tapi ini kan hari ulang tahunku, Mas”
“ Ya, lain kali saja kita rayakan”
“ Tahun lalu juga seperti ini! Jadi sekarang…”
“ Sudah dulu, bosku datang!”
“ Tapi, Mas! Mas Aji…”
Tut… tut… tut… telepon itu terputus. Dewi membisu. Telepon itu pun ikut membisu.

* * *

Sore itu tenang. Tenang sekali, sampai burung-burung pun seakan enggan mengganggu ketenangan itu dengan kicau meracaunya. Namun, seseorang menganggu ketenangan itu. Seseorang menggilas ketenangan itu dengan raungan mobilnya yang menggila. Setelah melihat sebuah rumah bercat hijau muda, ia melajukan mobilnya ke arah sebuah pohon besar di seberang rumah hijau muda itu. Ciiiitttt. Tiba-tiba ia menghentikan sedan putihnya, hingga ketenangan kembali menjalar seketika. Kini, sedan putih itu terparkir apik, terhalangi rimbunnya pohon besar yang berdiri perkasa.

Ia terdiam. Napasnya memburu. Sesekali ia menghela napas panjang, tapi tetap saja napasnya masih memburu. Ia mengamati rumah hijau muda itu. Rumah itu asri. Rumah itu sepi. Rumah itu sendiri. Hanya pohon-pohon rindang saja yang bersedia menemani. Tampak daun-daun kuping gajah yang melambai malas tertiup angin dan kelopak-kelopak bougenvil yang saling bersentuhan karena oleng tertiup angin. Tak tampak kehidupan lain di rumah itu.

Satu menit. Dua menit. Beberapa menit lagi berlalu dengan sia-sia. Ia mulai gelisah. Diliriknya jarum jam yang terus bergerak tak mengindahkannya. Ia kesal. Ia meraba kantongnya. Ia mengambil sebatang rokok, meremas bungkusnya, lalu melemparkannya keluar jendela mobil. Ia hirup rokok itu dalam-dalam. Ia hirup sekali dan sekali lagi. Lalu, ia memandang rokok itu dengan rasa tidak puas. Pemikirannya selama ini bahwa rokok bisa memberikan surga ketenangan baginya ternyata salah. Ia kecewa, karena ternyata rokok itu pun ikut mengecewakannya. Kini, nasib rokok itu sama dengan bungkusnya. Dilempar keluar jendela mobil oleh pemuja setianya dan bergabung dengan onggokan sampah di jalanan.

Tak lama kemudian, sebuah taksi berhenti tepat di depan pagar rumah hijau muda itu. Seorang pria berperawakan tegap keluar dari dalamnya, kemudian melangkah menuju rumah itu. Tak terlihat seorang pun menyambut kedatangannya. Pria itu berhenti di depan pintu, lalu mengeluarkan sejumlah anak kunci. Ia berhasil membuka pintu dengan mudah, Tanpa merasa ragu, ia melewati ambangnya dan menutupnya dari dalam. Tampaknya, ia tak menyadari bahwa seseorang tengah mengawasinya dengan mata yang sarat dengan dendam.

Manusia dalam mobil memejamkan matanya yang mulai terasa perih. Karena ternyata tanpa sadar, ia telah lupa berkedip selama beberapa waktu. Ia membuka matanya. Matanya telah berubah merah. Ia gelisah. Dan kini, ia semakin gelisah. Peluh dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya. Ia meraih sehelai tisyu, lalu menyeka peluh di wajahnya, lehernya, dan kedua telapak tangannya.

Lima menit berlalu. Manusia dalam mobil tetap diam, namun matanya tetap tajam mengawasi rumah hijau muda itu. Kini, matanya semakin bertambah perih. Tapi bukan karena ia lupa berkedip, melainkan karena ia bersikeras menahan air mata yang meronta minta dibebaskan.

Kau brengsek Ratu! Setelah kau ambil kekasihku, kini kau ambil juga suamiku. Dulu, aku pernah merelakan kekasihku. Tapi kini, tak akan kurelakan suamiku. Kau benar-benar Ratu ular. Berapa banyak lagi korban yang kau butuhkan untuk memuaskan berahimu?

Lima menit lagi berlalu. Kini, ia tak mampu lagi menahan air matanya. Air mata itu menetes. Tetesannya semakin deras dan deras. Ia mengerjapkan matanya untuk menahan laju air mata itu. Ia merasakan sakit. Sakit yang luar biasa. Ia mengerjapkan lagi matanya, seakan dengan menahannya maka rasa sakitnya akan hilang. Namun ternyata, rasa sakit itu semakin menjadi. Kini, sakit itu telah menjalar di sekujur tubuhnya, mengalir dalam aliran darahnya, merasuk dalam sendinya, lalu menggerogoti hatinya hingga ia merasa sudah tak punya hati lagi.

Tega sekali kau, mas. Kau mengkhianati aku demi dia. Demi si Ratu ular. Apa kekuranganku? Kupoles bibirku dengan lipstick merah darah setiap waktu, demi kau. Kubasahi ragaku dengan parfum nomor satu setiap waktu, demi kau. Kukenakan baju yang dapat membuat semua pria membelalakan mata setiap kali melihatku, demi kau. Kupadatkan lekuk-lekuk tubuhku dengan zat-zat buatan manusia, demi kau. Bahkan, kukuatkan diriku untuk tak mempedulikan rasa sakit yang menggila ketika tangan-tangan itu menggunting, menyobek, menjahit, dan merombak bagian-bagian ragaku yang tak kau sukai agar kau jadi menyukainya. Semua itu demi kau!

Ia menyeka air mata dengan tangannya. Lalu, ia menoleh ke arah spion mobilnya. Ia tersenyum melihat bayangannya sendiri. Ia tampak seperti boneka-boneka seram yang ia benci. Ia melihat lagi bayangannya. Mascaranya luntur, matanya sembap, dan tampak bulatan hitam di sekitar matanya. Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangan hingga tak tampak lagi warna merah darah yang menghiasinya. Kini, lengkaplah sudah. Ia semakin mirip dengan boneka-boneka kematian yang di pajang di etalase toko mainan anak-anak. Ia mencoba tersenyum lagi. Tapi, yang tampak hanya senyum khas orang-orang di pemakaman. Senyum yang muram dan kelabu.

Tega benar kau, mas. Aku rela bertengkar dengan ibuku demi kau. Aku rela menampar ayahku demi kau. Aku rela berkelahi dengan adikku demi kau. Aku rela memerangi seluruh keluarga besarku demi kau! Demi kau! Tapi apa yang kudapat? Hanya luka! Ternyata semua ini hanya demi luka, mas. Demi luka.

Lima menit lagi berlalu. Sekujur tubuhnya yang kini benar-benar basah oleh peluh tak dihiraukannya. Braaaak! Ia memukul dashboard mobilnya. Ia mulai hilang kesabaran. Ia mulai hilang kesadaran. Ia mulai mengacak-acak rambutnya. Ia mulai melemparkan benda-benda yang berada dalam jangkauannya. Kaset, kotak tisyu, pengharum mobil, boneka, lipstick, dan uang recehan kini berserakan tak karuan di lantai mobilnya. Lalu, ia mengeluarkan sebuah foto berlatar pantai biru dari dalam dompetnya. Dipandanginya foto itu. Ia dan sesosok perempuan cantik terlihat sedang tertawa bersama seakan sedang menantang dunia. Ia membalikkan foto itu. Tampaklah sebuah tulisan di belakang foto itu “ me n Ratu : persahabatan ialah hal terindah dalam hidup”. Ia kesal. Ia marah. Ia murka. Dan seribu satu perasaan lain yang serupa, berkecamuk dalam benaknya. Ia robek-robek foto itu, lalu ia jejalkan ke dalam mulutnya. Ia mulai mengunyah dengan gila.

Dasar, Ratu ular! Dulu, kurelakan Ferdyku untuk menutupi aib dalam rahimmu. Kurelakan ia untuk menjadi ayah dari anak jadahmu! Kurelakan ia menjadi nama yang tercantum dalam surat nikahmu dan akta kelahiran anakmu. Mana balas budimu? Kau malah menikamku dari belakang! Lukaku atas Ferdy belumlah kering ketika kini kau menaburkan cuka asam ke dalamnya! Kini Aji-ku kau ambil juga! Ferdyku, Ajiku, lalu siapa lagi yang akan kau rebut dari hidupku? Ratu, Aji, lihat saja, akan kutangkap basah kalian! Kalian manusia-manusia kotor! Sahabat dan suami paling terkutuk di dunia!

Brak! Braaak! Ia memukul-mukul kembali dashboard mobilnya. Kemarahan telah mencapai ubun-ubunnya. Ia telah benar-benar hilang kesabaran dan kesadaran. Ia bergegas keluar dari mobilnya. Untuk pertama kalinya, ia menjejakkan kaki di halaman rumah hijau muda itu. Meski kakinya menapak tanah, tapi ia serasa terbang. Terbang di atas api kemurkaan. Ia menggedor pintu rumah hijau muda itu. Dor! Dor! Dor! Lama. Tak ada jawaban. Ia menggedor pintu itu sekali lagi. Dor! Dor! Dor! Sama. Tak ada jawaban. Ia marah. Ia mengamuk. Ia mulai membanting-bantingkan pot berisi kuping gajah. Pecahannya berserakan mengotori halaman asri rumah itu. Merasa tak puas, ia mulai menendangi bangku-bangku taman. Ia mulai menjerit-jerit histeris. Bak orang gila, ia meracau tak jelas sambil terus meludahi tiap sudut halaman rumah itu. Kini, sore yang tenang telah berubah menjadi terror.

Krieeet. Pintu rumah hijau muda itu terbuka.
“ DEWI?!”
Aji berseru ketika membuka pintu. Ia kaget, terlihat dari raut wajahnya yang sudah sepucat orang mati. Nampaknya, aliran darah tak ada yang mau mampir di wajahnya. Ia berdiri kaku bak robot-robot bodoh. Ia tak bernapas. Ia mati rasa. Ia mengucek-ucek matanya seakan tak percaya bahwa ia sedang melihat istrinya menjelma menjadi pendekar-pendekar gendeng yang sedang mengamuk di film-film silat.
Dewi menoleh. Sorot matanya tajam seakan ingin menelanjangi suaminya yang sudah setengah telanjang. Ia mendekati suaminya. Rasa jijik tercium di udara. Tiba-tiba, ia mendorong suaminya dan berlari ke dalam rumah. Aji hanya terpaku. Ketika sadar, ia mulai mengejar istrinya.
“ Wi, jangan!”
“ Persetan! Mana si Ratu ular itu?!”
“Wi, jangan!”
Tapi Dewi sudah terlanjur membuka pintu salah satu kamar.
Braaak! Pintu terbuka lebar. Dewi melihat ke dalam kamar. Ia melihat sosok di kamar itu. Ia terkejut tak terperi. Bukan Ratu yang ia temukan di kamar itu, melainkan sesosok pria bertelanjang dada yang tengah sibuk mengenakan celana. Pria itu menoleh, dan tampak tak kalah terkejutnya.
“ Dewi…”
“ FERDY?!”
“ Wi…”
“ Jadi… Aji… Ferdy… kalian…”

Wanita itu limbung. Petir sambar-menyambar di kepalanya. Jantungnya berdetak cepat tak berirama. Sakit. Sakit sekali yang ia rasakan. Seribu anak panah seakan menusuk menembus dadanya. Belati-belati tajam tak kunjung henti mencongkeli hatinya yang telah mati. Bangkai. Hatinya kini telah menjadi bangkai. Ia oleng. Kepalanya merasakan pusing yang teramat hebat seakan ia sedang naik komidi putar dengan putaran yang maha dahsyat. Perutnya serasa ditarik dan dipelintir hingga ia merasakan mual yang tak terkira. Ia mual. Ia jijik. Ia muntah. Ia memuntahkan segala rasa jijik yang paling jijik. Ia limbung. Ia marah. Ia murka. Ia jijik. Ia muntah kembali.
“ Wi, dengar dulu…”
Aji merangkul Dewi yang tengah muntah dan muntah lagi. Dewi mengibaskan tangan Aji seakan tangan itu hanya lalat kotor yang ingin menghinggapi tubuhnya.
“ Sayang, tenang dulu…”
PLAK! Tangan halus wanita itu mendarat cepat di pipi Aji. Pipinya panas, namun tak sepanas sore itu. Sore itu telah membara terbakar dendam, hingga hanya bau kebencian dan kejijikan yang tercium di udara. Mereka berpandangan, namun Aji tak sanggup membalas tatapan tajam mata Dewi. Luka yang menganga tergurat jelas di balik kelopak matanya.
“ Kenapa, mas?”
“ Aku…”
PLAK! Tangan Dewi mendarat lagi di pipi Aji.
“ KENAPA KAU SELINGKUH DENGAN LAKI-LAKI ITU! KENAPA?!”
“ Aku…”
PLAK!
“ Tak usah kau jawab! Aku tak mengerti dan tak akan pernah mau mengerti!
Dewi mendorong Aji, hingga Aji terhuyung. Dengan sisa-sisa tenaga, Dewi menerobos keluar. Keluar dari kamar itu. Keluar dari rumah itu. Dan keluar dari kehidupan yang selama ini ia impikan. Ia berlari. Terus berlari. Ia tak mempedulikan suara-suara di belakangnya. Ia sampai di mobilnya. Tanpa pikir panjang, ia melesatkan mobilnya. Ia pergi. Mentari yang sayu mengiringi kepergiannya. Angin yang bisu mengantarkan kepergiannya. Ia pergi. Ia telah jauh pergi.

* * *

Di antara orang-orang berpakaian hitam, terlihat seorang wanita memegang erat sehelai kertas. Matanya yang bersimbah air mata, tak lepas memandangi kertas itu.

Tuhan maafkan aku, yang telah bodoh menjauhi-Mu.
Tuhan maafkan aku, yang telah bodoh melupakan-Mu.
Tuhan maafkan aku, yang hanya ingin diberi kesempatan untuk jatuh cinta lagi kepada-Mu. Tuhan… ragaku, jiwaku, dan seluruh aku adalah milik-Mu.

Wanita itu menangis lagi. Seorang pria menghampirinya, duduk di sampingnya, kemudian memeluknya.
“ Sudahlah, sayang. Meski kau menghabiskan seluruh air matamu, ia takkan kembali”
“ Aku tak percaya! Aku tak percaya Dewi mengakhiri hidupnya seperti ini!” Air mata kembali berleleran di pipi putihnya.
“ Sayang, sudahlah. Mungkin jalannya memang harus seperti ini. Ikhlaskan saja”
“ Dewi sahabatku, mas. Bahkan lebih dari sahabat. Dia dewi penolongku. Dulu, dia merelakanmu demi aku, demi anakku, dan demi kehormatanku. Dia menyelamatkan hidupku. Sekarang, mengapa ia rela mencelakakan hidupnya sendiri?”
“ Aku tahu dia merelakan aku untuk jadi suamimu. Aku tahu dia berharga. Tapi lihat, ternyata dia sendiri tak menganggap hidupnya seberharga itu!”
“ Aku tetap tak percaya dia mengakhiri hidupnya sendiri! Lihat! Lihat surat ini! Surat ini tak menggambarkan seseorang yang ingin cepat pergi! “
“ Ratu! Hadapilah! Terima kenyataan ini! Dewi bunuh diri!”
“ Mas Ferdy, sudahlah! Aku sedang tak ingin berdebat! Aku ingin sendiri. Lebih baik, mas menenangkan mas Aji saja. Tampaknya, ia masih belum bisa menerima kepergian istrinya”
“ Ya sudahlah, kalau itu memang maumu…”

Ferdy beranjak. Ia menghampiri Aji yang sedang menangis meraung-raung. Ia mendekatinya. Ia menatapnya. Ia merangkulnya. Aji hanya menatap kosong.

Sungguh Tuhan, aku tak kuat lagi. Aku hanya tak kuat lagi. Aku tak kuat melihat lipstick merah darahnya. Aku tak kuat lagi menghirup bau parfum nomor satunya. Aku tak kuat lagi melihat lekuk-lekuk tubuhnya yang nyaris sempurna. Aku tak kuat lagi memikirkannya yang selalu keluar-masuk klinik-klinik ternama untuk merubah semua karunia-Mu yang ada pada raganya. Aku tak kuat lagi. Sungguh.
Dan Tuhan, aku tak sengaja. Sungguh, aku tak sengaja. Aku tak sengaja berkeluh kesah kepada temanku. Aku tak sengaja jatuh hati kepada temanku itu. Aku tak sengaja menjalin cinta dengan temanku itu. Aku tak sengaja bercinta dengan temanku itu dengan berahi yang membara. Seperti aku tak sengaja pula, ketika mengoleskan racun itu pada rokok istriku.

“ HAHAHAHAHAHA!”
“ Aji, sudahlah. Bukankah ini yang kita mau?”
Ferdy semakin mempererat rangkulannya di pundak Aji.
“ HAHAHAHAHAHA!”
“ Aji! Berhentilah berlaku seperti orang gila!”
“ HAHAHAHAHAHA!”
“ Aji! Kau memang sudah gila! AJI! AJI!!!”
“ HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA”
Tawa Aji membelah siang yang kelabu itu. Tawa itu bergema, terus bergema. Bergema hari ini. Bergema esok hari dan esoknya lagi, karena tawa itu tak akan pernah berhenti bergema untuk selamanya.

Catatan kamarku’ 04/ 07
Neng

hari kaki sedunia

Uh, lelahnya hari ini.

Aku pun beranjak pulang. Kuseret kakiku yang seakan tidak mau melangkah. Kakiku kaku, karena tadi kuhabiskan hari dengan naik turun tangga. Luar bisa. Kuliah di lantai 4 atau lima tanpa menggunakan lift. Karena lift hanya dua dan kebanyakan orang yang mengantri adalah ibu-ibu dan bapak-bapak. Sepertinya sedikit tidak tahu diri bila aku menyusup-nyusupkan diri di antara mereka yang umurnya berkepala lima ke atas. Maka, dengan jiwa mudaku (cieee), dengan high heelku, aku pun naik turun tangga dengan gagah perkasa, wuahaha. Hasilnya… sepertinya porsi mkn siangku akan lbh banyak nanti siang.

Setelah kuliah, aku harus mengajar di gedung yang letaknya di ujung kampus. Maka, dengan terseok-seok aku menuju ke sana. Setelah tiba di sana, ternyata aku harus mengajar di lantai tiga. OKEH. Me n my high heel siap beraksi! Aku pun naik tangga karena memang di gedung itu belum tersedia lift. Maka, aku pun tiba di kelas dengan peluh yang membasahi tubuh. Cape ya, bu? Kata mahasiswaku. Ah, ngga, ini sih biar dramatis saja, kataku.

Sehabis mengajar di kelas itu, aku pun harus mengajar di kelas lain, di gedung yang letaknya di bagian depan kampus. Maka, dengan langkah terseok-seok lagi, aku pun melangkah ke sana. Setiba di sana, aku ingat bahwa aku harus mengajar di lantai 5. OKEH. No more stair!! Aku pun berdiri di depan lift. Ting! Pintu lift terbuka. Ketika hendak masuk, tiba-tiba segerombolan mahasiswa datang menyalipku, dan wajah tak berdosa “mereka mengambil liftku!”. Hei, come’on, that’s my lift. OKEH. Kutunggu lift berikutnya. Lift pun datang. Tiba-tiba, segerombolan mahasiswa kembali datang dan mengambil liftku. Sungguh ajaib, dari mana datangnya mereka? Apakah mereka teman2nya doraemon yang bisa tiba2 muncul dr pintu ajaib? Sepertinya begitu. OKEH-OKEH. Jangan dikira aku tak punya kesabaran. Aku akan berdiri di sini, setia menanti, hingga liftku datang menghampiri. “Ngajar, neng?” Tiba-tiba, dosenku datang.” Muhun, bu”, kataku. “Ayo, naik tangga aja, sekalian olah raga, biar langsing”. “Maksudnyaaa??” (tapi kata yang ini hanya terucap dalam hati). Aku pun tersenyum dan dengan terpaksa menganggukkan kepala. Mulutku boleh tersenyum, tapi hatiku menjerit (tidaaaak). Maka, aku pun naik tangga bersamanya. “Mangga, ibu mah di lantai dua”, dan ia pun pergi. Ow, pantesan ngajakin naik tangga… orang beliau mah di lantai dua… OKEH! Perjuangan belum berakhir. Dengan sisa-sia tenanga, aku meneruskan perjuangan! Me n my high heel kembali beraksi. Aku pun naik tangga, menuju lantai lima yang berasa lantai tujuh belas. Memang, hidup itu tidak mudah, kawan!

Singkat cerita, setelah selesai kuliah, selesai ngajar, selesaai naik turun tangga, dan berdiri sekian ratus menit di depan kelas, kakiku sedikit mati rasa. Entah karena memang cape, entah karena aku memakai high heel yang tingginya cuman lima senti tapi berasa dua puluh senti. Tumitku berdenyut-denyut. Tiba-tiba, sol sepatuku tampak seperti paku. Kakiku lecet, betisku bengkak, dan telapkku kapalan. Mengapa wanita senang menyakiti diri sendiri dengan mengenakan sepatu seperti itu? Ckckck, sungguh merana! Tiba-tiba, perkataan temanku itu menyalak nyaring di kupingku. OKEH-OKEH. Kali ini dia benar. Ingin rasanya kulemparkan sepatuku ini ke jalan raya, tergilas motor, angkot, truk gandeng atau bahkan tank baja kalau ada, sehingga jadi rusak, gepeng dan bentuknya tak karuan. Jadi aku tidak akan terlalu merasa berdosa karena telah membuangnya… karena aku memang telah berdosa dengan merogoh saku cukup dalam untuk membelinya sepatu penjajahan itu.

Akhirnya, saat pulang pun tiba. Kulangkahkan kakiku menuju gerbang. Aku pun bergegas menuju angkot. Tiba-tiba, melintas bus di depanku. TING! Satu ide gila terbersit di benakku. Kenapa tak naik bus saja, toh aku sudah lama tidak naik bus, kangen juga! Karen aide gila itu, aku pun membulatkan tekad. Aku melangkah menuju bus, meski dengan perasaan takut. TAKUT? Ya. Aku takut naik bus. Aku punya pengalaman traumatis. Sewaktu masa kuliah dulu, aku adalah pelanggan tetap bus. Suatu pagi, aku naik bus yang penuhnya luar biasa. Jadi, aku berdiri di pintu. Ketika supir menancap gas, aku belum berpegangan, maka aku pun terpelanting ke luar bus. Seperti di sinetron-sinetron, tiba-tiba waktu berjalan serasa lambat. Semua bergerak dengan efek slow motion. Untung waktu itu ada aa-aa yang dengan sigap menangkapku seperti adegan dalam film2 Hollywood dan Bollywood. Ia menyokong tubuhku (yang tentunya beratnya melebihin dirinya). Ia menarikku kembali ke dalam bus. Ia pun berdiri di hadapanku, seolah melindungiku agar tidak tersungkur lagi seperti tadi. Dan aku, hanya bengong seperti orang tolo karena shock yang luar biasa. Sesampainya di kampus, aku jadi seperti orang bego. Aku hanya duduk dikerubungi teman-temanku yang heboh tak karuan. Dan, aku tersadar setelah salah temanku mencubit pipiku. “Woi, sadar woi”, katanya. “Aduh, di mana ieu?”, kataku. “Di kampus, odse!”, katanya. “Kok, nggak ngucapin ma kasih, sih?”, lanjutnya. Damn! Aku lupa. “Yah, padahal cakep loooh!”, ujar temanku lirih. Daaaaaaaamn! “Mana orangnya?” Aku celingukan. “Tadi sih nungguin di sini, tapi udah pergi tuh, ka Bagdad meureun! BT kayaknya dicuekin! Odse… odseee”, temanku menghela napas panjang, seolah telah melewatkan undian berhadiah dua milyar. (ZEEEET). Mari kita kembali ke masa kini. Dengan langkah terseok, aku naik ke dalam bus. ZOWENG! Ternyata, busnya penuh luar biasa. Aku tak kebagian tempat duduk. Mau turun lagi, busnya sudah berjalan. Mau loncat, aku tak punya keberanian. Maka, berdirilah aku di tengah-tengah kesesakkkan itu, dengan kaki bengkak dan kesemutan. OKEH. Mungkin nanti di perjalanan, ada orang turun dan aku jadi bisa duduk. OKEH. Biasanya di Setiabudhi depan ada yang turun. Setiabudhi telah lewat, belum ada orang yang turun. OKEH. Mungkin di sukajadi. Sukajadi lewat, belum juga ada yang turun. OKEH. Mungkin nanti di RSHS. RSHS lewat, belum jugaaa ada yang turun. Tumitku sudah berdenyut-denyut, dan aku masih berdiri bergelantungan pada tiang. OKEEEH. Mungkin di pasir Kaliki. Pasir kaliki lewat, dan orang-orang tetap diam. Astagfirulloh. Kenapa tiba-tiba orang-orang jadi betah di dalam bus? OKEH. Mungkin nanti di Pasar baru. Pasar baru lewat, dan masiiiih beluuuum jugaaa ada yang tuuuruuun. OKEH. High heelku sudah berasa menjadi paku. Ia menusuk-nusuk telapakku. OKEEEEH. Mungkin di dalem kaum, kebon kalapa, tegalega……… dan hingga aku turun, orang-orang tetap belum ada yang turun. OKEH. SILAHKAN DUDUK SAJA SAMPAI BESOK! Maka, hari itu aku nobatkan sebagai HARI KAKI SEDUNIA!

great day great day

great day great day

Begadang lagi. Konon aq msti bikin soal UAS buat besok. Maka, setelah kerja rodi ngerjain skrip yg lima welas wiji yg bikin mata srasa membesar (amiiin, sapa tau jd ky mata rani mukerjee gituh??), maka kuteruskanlah untuk kerja rodi sesion #2, yaitu membuat soal UAS. Yeee… menyenangkan sekali, bukan? (BUKAAAN!).

Setelah memeras otak, memeras keringat, dan memeras cucian, akhirnya soal itu… tak selesai juga. Tapi, apa pun yg terjadi… apa pun rintangannya… bahaya apa pun yg menghadang… yg namanya tanggung jawab profesi ya mesti dikerjakan, maka… aku pun pergi tidur! (profesi sih profesi, ari tunduh mah teuteup we lieur!!!). Namun, si UAS datang menghantui tidurku. Tidurku tak nyenyak. Makan pun tak enak. Maka aku pun bangun dengan keringat membanjiri sekujur tubuhku. Tubuhku basah (ya iyalah, orang tidurnya di ember). Ternyata waktu sudah samporet. Aku kesiangan. Aku pun bersiap dengan tergesa. Soal UAS tinggal dua wiji lagi. Aku tetap pergi, karena hari ini pun aku ada UAS (gosipnya).

Aku pergi dengan tergesa, karena aku sudah terlambat. Kuhentikan angkot yang sedang melaju dengan kecepatan luar binasa. Ia berhenti tepat di sampingku (masa di samping pak kusir yang sedang bekerja??). Kunaiki angkot itu. Angkot itu segera melaju kembali dengan kecepatan luar binasa. Ia melewati tikungan dengan gerakan lincah. Wah, sepertinya Ananda Mikola harus waspada… itulah pikirku. Mobil terus melaju. Wah, aku bisa sampai kampus dalam waktu dua puluh menit, nih… pikirku. Mobil terus melaju. Tiba di tikungan berikutnya, ia semakin beringas. Namun, tiba-tiba dia mengerem mobilnya. Terdengar decit ban yang mengkhawatirkan. Mobil itu langsung berhenti… berhenti dan berhenti, tidak maju-maju lagi selama dua puluh menit alias NGETEM!!!! Wah, sepertinya Dewi Persik harus waspada… karena sepertinya bukan hanya dia yang terjerat kasus penonjokan! Alhamdulillah, mobil akhirnya melaju. Dan aku pun tiba di kampus hanya dalam waktu satu jam dua puluh menit.

Aku sudah sangat terlambat. Aku pergi dengan tergesa, tapi bukan menuju kampus… aku pergi menuju bank. Karena aku pikir, sepertinya sisi finansialku lebih memutuhkanku saat itu. Ternyata di bank kosong. Alhamdulillah. Aku pun pergi menuju CSnya yang sangat ramah. Ia pun melayaniku dengan sangat baik. Wah, lima menit juga selesai, pikirku. Tiba-tiba, HPnya berdering, dan ia pun harus menerima telepon lebih dari lima menit. Singkat cerita, aku keluar dari bank dengan kecepatan berlari yang sebanding dengan sprinter nasional.

Sampailah aku di kampus. Yes, dosennya belum datang. Aku segera menuju lift, dan tampaklah antrian yang menyemut. Maka, dengan semangat jiwa mudaku… aku pun mengalah naik tangga. Segurat senyum tergaris di bibirku… namun sejuta peluh mengucur di keningku. Maka, lek-lok-lah aku. Sesampainya di kelas, aku segera menghubungi temanku untuk memberitahukan bahwa aku tidak bisa pergi ke Jakarta karena ada Uas dan terpaksa harus membatalkan kontrak kerjaku hari itu. Tak lama, dosenku pun datang dan memberikan UAS yang ternyata TAKE HOME!!!! Ya sudahlah, bila bukan rejeki ya susah.

Setelah beres kuliah. Aku pergi bersama temanku untuk memberikan soal UAS, dan ternyata soalnya (benar-benar) sudah dibuatkan oleh koordinator dosen. Terima kasih pak, akan kusimpan hasil karyaku semalam suntuk untuk dijadikan kenang-kenangan (tapi ga juga deng, sama R mau dibisnisin, heheee). Aku pun pergi ke jurusan MKU untuk mengambil soal dan menanyakan jadwal ngawas.
N : permisi, pak, saya mau bertanya mengenai jadwal Uas bahasa Indonesia?
MR. X : besok, serentak.
N: mengenai jadwal ngawasnya bagaimana, pak?
Mr. X: Hah, jadwal ngawas? Ibu, dosen??? ( DAMN! Sekali)
N : betul, pak.
Mr. X: sebentar.
Nih, ada dosen bahasa Indonesia mau nanya jadwal.
Mr. Y: Mana dosen? ( DAMN! Dua kali)
Mr. Y: oh, ibu, dosen??? (DAMN! Tiga kali. Sekali lagi ada yang nanya, ta tabok pake buku Harry Potter jilid 7!)
MR. Y: begini bu, mengenai jadwal Uas, bla bla bla…. (Alhamdulillah, pada sadar juga ni orang-orang!)

Setelah itu, temanku mengajakku mengurus SK. Namun sebelum itu, kami berbekal dulu es doger untuk serangan fajar karena kami curiga bahwa kami akan olah raga sore-sore … ternyata… kami mesti ke bagian anu… oh, tunggu bapak anunya nggak ada, balik lagi nanti aja…. Ada, silakan. Lebih baik segera ke bagian anu… oh, memang ada di sini, tapi harus diserahkan dulu ke bagian anu…. Sebenernya si anu teh saha sih??? Meni karunya di mana-mana nggak ada. Tuh kan, firasatnya bener…untung tadi bekel es doger (meski pas belinya teh deg-degan takut di-busted-in sama mahasiswa kaya waktu jajan cimol sama endog-endogan). Akhirnya, sore itu berlalu dengan ceria dengan pembakaran lemak habis-habisan hingga aku pun habis-habisan alias ripuh. Pulangnya ga langsung pulang, ada acara musikalisasi dulu di wisma moh toha, pas ke sana… ternyata mesti nunggu sampe malem. Malam pun datang, dan… soundsystemnya EROR! Hahaha… what a great great day. Andai cerita ini fiktif belaka… tapi sayangnya… yah, what a great great day. Itulah indahnya hidup, bukan?