DEMI LUKA
“ Wi, aku akan pulang telat hari ini. Di kantor ada meeting”
“ Tapi ini kan hari ulang tahunku, Mas”
“ Ya, lain kali saja kita rayakan”
“ Tahun lalu juga seperti ini! Jadi sekarang…”
“ Sudah dulu, bosku datang!”
“ Tapi, Mas! Mas Aji…”
Tut… tut… tut… telepon itu terputus. Dewi membisu. Telepon itu pun ikut membisu.
* * *
Sore itu tenang. Tenang sekali, sampai burung-burung pun seakan enggan mengganggu ketenangan itu dengan kicau meracaunya. Namun, seseorang menganggu ketenangan itu. Seseorang menggilas ketenangan itu dengan raungan mobilnya yang menggila. Setelah melihat sebuah rumah bercat hijau muda, ia melajukan mobilnya ke arah sebuah pohon besar di seberang rumah hijau muda itu. Ciiiitttt. Tiba-tiba ia menghentikan sedan putihnya, hingga ketenangan kembali menjalar seketika. Kini, sedan putih itu terparkir apik, terhalangi rimbunnya pohon besar yang berdiri perkasa.
Ia terdiam. Napasnya memburu. Sesekali ia menghela napas panjang, tapi tetap saja napasnya masih memburu. Ia mengamati rumah hijau muda itu. Rumah itu asri. Rumah itu sepi. Rumah itu sendiri. Hanya pohon-pohon rindang saja yang bersedia menemani. Tampak daun-daun kuping gajah yang melambai malas tertiup angin dan kelopak-kelopak bougenvil yang saling bersentuhan karena oleng tertiup angin. Tak tampak kehidupan lain di rumah itu.
Satu menit. Dua menit. Beberapa menit lagi berlalu dengan sia-sia. Ia mulai gelisah. Diliriknya jarum jam yang terus bergerak tak mengindahkannya. Ia kesal. Ia meraba kantongnya. Ia mengambil sebatang rokok, meremas bungkusnya, lalu melemparkannya keluar jendela mobil. Ia hirup rokok itu dalam-dalam. Ia hirup sekali dan sekali lagi. Lalu, ia memandang rokok itu dengan rasa tidak puas. Pemikirannya selama ini bahwa rokok bisa memberikan surga ketenangan baginya ternyata salah. Ia kecewa, karena ternyata rokok itu pun ikut mengecewakannya. Kini, nasib rokok itu sama dengan bungkusnya. Dilempar keluar jendela mobil oleh pemuja setianya dan bergabung dengan onggokan sampah di jalanan.
Tak lama kemudian, sebuah taksi berhenti tepat di depan pagar rumah hijau muda itu. Seorang pria berperawakan tegap keluar dari dalamnya, kemudian melangkah menuju rumah itu. Tak terlihat seorang pun menyambut kedatangannya. Pria itu berhenti di depan pintu, lalu mengeluarkan sejumlah anak kunci. Ia berhasil membuka pintu dengan mudah, Tanpa merasa ragu, ia melewati ambangnya dan menutupnya dari dalam. Tampaknya, ia tak menyadari bahwa seseorang tengah mengawasinya dengan mata yang sarat dengan dendam.
Manusia dalam mobil memejamkan matanya yang mulai terasa perih. Karena ternyata tanpa sadar, ia telah lupa berkedip selama beberapa waktu. Ia membuka matanya. Matanya telah berubah merah. Ia gelisah. Dan kini, ia semakin gelisah. Peluh dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya. Ia meraih sehelai tisyu, lalu menyeka peluh di wajahnya, lehernya, dan kedua telapak tangannya.
Lima menit berlalu. Manusia dalam mobil tetap diam, namun matanya tetap tajam mengawasi rumah hijau muda itu. Kini, matanya semakin bertambah perih. Tapi bukan karena ia lupa berkedip, melainkan karena ia bersikeras menahan air mata yang meronta minta dibebaskan.
Kau brengsek Ratu! Setelah kau ambil kekasihku, kini kau ambil juga suamiku. Dulu, aku pernah merelakan kekasihku. Tapi kini, tak akan kurelakan suamiku. Kau benar-benar Ratu ular. Berapa banyak lagi korban yang kau butuhkan untuk memuaskan berahimu?Lima menit lagi berlalu. Kini, ia tak mampu lagi menahan air matanya. Air mata itu menetes. Tetesannya semakin deras dan deras. Ia mengerjapkan matanya untuk menahan laju air mata itu. Ia merasakan sakit. Sakit yang luar biasa. Ia mengerjapkan lagi matanya, seakan dengan menahannya maka rasa sakitnya akan hilang. Namun ternyata, rasa sakit itu semakin menjadi. Kini, sakit itu telah menjalar di sekujur tubuhnya, mengalir dalam aliran darahnya, merasuk dalam sendinya, lalu menggerogoti hatinya hingga ia merasa sudah tak punya hati lagi.
Tega sekali kau, mas. Kau mengkhianati aku demi dia. Demi si Ratu ular. Apa kekuranganku? Kupoles bibirku dengan lipstick merah darah setiap waktu, demi kau. Kubasahi ragaku dengan parfum nomor satu setiap waktu, demi kau. Kukenakan baju yang dapat membuat semua pria membelalakan mata setiap kali melihatku, demi kau. Kupadatkan lekuk-lekuk tubuhku dengan zat-zat buatan manusia, demi kau. Bahkan, kukuatkan diriku untuk tak mempedulikan rasa sakit yang menggila ketika tangan-tangan itu menggunting, menyobek, menjahit, dan merombak bagian-bagian ragaku yang tak kau sukai agar kau jadi menyukainya. Semua itu demi kau!Ia menyeka air mata dengan tangannya. Lalu, ia menoleh ke arah spion mobilnya. Ia tersenyum melihat bayangannya sendiri. Ia tampak seperti boneka-boneka seram yang ia benci. Ia melihat lagi bayangannya. Mascaranya luntur, matanya sembap, dan tampak bulatan hitam di sekitar matanya. Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangan hingga tak tampak lagi warna merah darah yang menghiasinya. Kini, lengkaplah sudah. Ia semakin mirip dengan boneka-boneka kematian yang di pajang di etalase toko mainan anak-anak. Ia mencoba tersenyum lagi. Tapi, yang tampak hanya senyum khas orang-orang di pemakaman. Senyum yang muram dan kelabu.
Tega benar kau, mas. Aku rela bertengkar dengan ibuku demi kau. Aku rela menampar ayahku demi kau. Aku rela berkelahi dengan adikku demi kau. Aku rela memerangi seluruh keluarga besarku demi kau! Demi kau! Tapi apa yang kudapat? Hanya luka! Ternyata semua ini hanya demi luka, mas. Demi luka.Lima menit lagi berlalu. Sekujur tubuhnya yang kini benar-benar basah oleh peluh tak dihiraukannya. Braaaak! Ia memukul dashboard mobilnya. Ia mulai hilang kesabaran. Ia mulai hilang kesadaran. Ia mulai mengacak-acak rambutnya. Ia mulai melemparkan benda-benda yang berada dalam jangkauannya. Kaset, kotak tisyu, pengharum mobil, boneka, lipstick, dan uang recehan kini berserakan tak karuan di lantai mobilnya. Lalu, ia mengeluarkan sebuah foto berlatar pantai biru dari dalam dompetnya. Dipandanginya foto itu. Ia dan sesosok perempuan cantik terlihat sedang tertawa bersama seakan sedang menantang dunia. Ia membalikkan foto itu. Tampaklah sebuah tulisan di belakang foto itu “ me n Ratu : persahabatan ialah hal terindah dalam hidup”. Ia kesal. Ia marah. Ia murka. Dan seribu satu perasaan lain yang serupa, berkecamuk dalam benaknya. Ia robek-robek foto itu, lalu ia jejalkan ke dalam mulutnya. Ia mulai mengunyah dengan gila.
Dasar, Ratu ular! Dulu, kurelakan Ferdyku untuk menutupi aib dalam rahimmu. Kurelakan ia untuk menjadi ayah dari anak jadahmu! Kurelakan ia menjadi nama yang tercantum dalam surat nikahmu dan akta kelahiran anakmu. Mana balas budimu? Kau malah menikamku dari belakang! Lukaku atas Ferdy belumlah kering ketika kini kau menaburkan cuka asam ke dalamnya! Kini Aji-ku kau ambil juga! Ferdyku, Ajiku, lalu siapa lagi yang akan kau rebut dari hidupku? Ratu, Aji, lihat saja, akan kutangkap basah kalian! Kalian manusia-manusia kotor! Sahabat dan suami paling terkutuk di dunia!Brak! Braaak! Ia memukul-mukul kembali dashboard mobilnya. Kemarahan telah mencapai ubun-ubunnya. Ia telah benar-benar hilang kesabaran dan kesadaran. Ia bergegas keluar dari mobilnya. Untuk pertama kalinya, ia menjejakkan kaki di halaman rumah hijau muda itu. Meski kakinya menapak tanah, tapi ia serasa terbang. Terbang di atas api kemurkaan. Ia menggedor pintu rumah hijau muda itu. Dor! Dor! Dor! Lama. Tak ada jawaban. Ia menggedor pintu itu sekali lagi. Dor! Dor! Dor! Sama. Tak ada jawaban. Ia marah. Ia mengamuk. Ia mulai membanting-bantingkan pot berisi kuping gajah. Pecahannya berserakan mengotori halaman asri rumah itu. Merasa tak puas, ia mulai menendangi bangku-bangku taman. Ia mulai menjerit-jerit histeris. Bak orang gila, ia meracau tak jelas sambil terus meludahi tiap sudut halaman rumah itu. Kini, sore yang tenang telah berubah menjadi terror.
Krieeet. Pintu rumah hijau muda itu terbuka.
“ DEWI?!”
Aji berseru ketika membuka pintu. Ia kaget, terlihat dari raut wajahnya yang sudah sepucat orang mati. Nampaknya, aliran darah tak ada yang mau mampir di wajahnya. Ia berdiri kaku bak robot-robot bodoh. Ia tak bernapas. Ia mati rasa. Ia mengucek-ucek matanya seakan tak percaya bahwa ia sedang melihat istrinya menjelma menjadi pendekar-pendekar gendeng yang sedang mengamuk di film-film silat.
Dewi menoleh. Sorot matanya tajam seakan ingin menelanjangi suaminya yang sudah setengah telanjang. Ia mendekati suaminya. Rasa jijik tercium di udara. Tiba-tiba, ia mendorong suaminya dan berlari ke dalam rumah. Aji hanya terpaku. Ketika sadar, ia mulai mengejar istrinya.
“ Wi, jangan!”
“ Persetan! Mana si Ratu ular itu?!”
“Wi, jangan!”
Tapi Dewi sudah terlanjur membuka pintu salah satu kamar.
Braaak! Pintu terbuka lebar. Dewi melihat ke dalam kamar. Ia melihat sosok di kamar itu. Ia terkejut tak terperi. Bukan Ratu yang ia temukan di kamar itu, melainkan sesosok pria bertelanjang dada yang tengah sibuk mengenakan celana. Pria itu menoleh, dan tampak tak kalah terkejutnya.
“ Dewi…”
“ FERDY?!”
“ Wi…”
“ Jadi… Aji… Ferdy… kalian…”
Wanita itu limbung. Petir sambar-menyambar di kepalanya. Jantungnya berdetak cepat tak berirama. Sakit. Sakit sekali yang ia rasakan. Seribu anak panah seakan menusuk menembus dadanya. Belati-belati tajam tak kunjung henti mencongkeli hatinya yang telah mati. Bangkai. Hatinya kini telah menjadi bangkai. Ia oleng. Kepalanya merasakan pusing yang teramat hebat seakan ia sedang naik komidi putar dengan putaran yang maha dahsyat. Perutnya serasa ditarik dan dipelintir hingga ia merasakan mual yang tak terkira. Ia mual. Ia jijik. Ia muntah. Ia memuntahkan segala rasa jijik yang paling jijik. Ia limbung. Ia marah. Ia murka. Ia jijik. Ia muntah kembali.
“ Wi, dengar dulu…”
Aji merangkul Dewi yang tengah muntah dan muntah lagi. Dewi mengibaskan tangan Aji seakan tangan itu hanya lalat kotor yang ingin menghinggapi tubuhnya.
“ Sayang, tenang dulu…”
PLAK! Tangan halus wanita itu mendarat cepat di pipi Aji. Pipinya panas, namun tak sepanas sore itu. Sore itu telah membara terbakar dendam, hingga hanya bau kebencian dan kejijikan yang tercium di udara. Mereka berpandangan, namun Aji tak sanggup membalas tatapan tajam mata Dewi. Luka yang menganga tergurat jelas di balik kelopak matanya.
“ Kenapa, mas?”
“ Aku…”
PLAK! Tangan Dewi mendarat lagi di pipi Aji.
“ KENAPA KAU SELINGKUH DENGAN LAKI-LAKI ITU! KENAPA?!”
“ Aku…”
PLAK!
“ Tak usah kau jawab! Aku tak mengerti dan tak akan pernah mau mengerti!
Dewi mendorong Aji, hingga Aji terhuyung. Dengan sisa-sisa tenaga, Dewi menerobos keluar. Keluar dari kamar itu. Keluar dari rumah itu. Dan keluar dari kehidupan yang selama ini ia impikan. Ia berlari. Terus berlari. Ia tak mempedulikan suara-suara di belakangnya. Ia sampai di mobilnya. Tanpa pikir panjang, ia melesatkan mobilnya. Ia pergi. Mentari yang sayu mengiringi kepergiannya. Angin yang bisu mengantarkan kepergiannya. Ia pergi. Ia telah jauh pergi.
* * *
Di antara orang-orang berpakaian hitam, terlihat seorang wanita memegang erat sehelai kertas. Matanya yang bersimbah air mata, tak lepas memandangi kertas itu.
Tuhan maafkan aku, yang telah bodoh menjauhi-Mu. Tuhan maafkan aku, yang telah bodoh melupakan-Mu.Tuhan maafkan aku, yang hanya ingin diberi kesempatan untuk jatuh cinta lagi kepada-Mu. Tuhan… ragaku, jiwaku, dan seluruh aku adalah milik-Mu.Wanita itu menangis lagi. Seorang pria menghampirinya, duduk di sampingnya, kemudian memeluknya.
“ Sudahlah, sayang. Meski kau menghabiskan seluruh air matamu, ia takkan kembali”
“ Aku tak percaya! Aku tak percaya Dewi mengakhiri hidupnya seperti ini!” Air mata kembali berleleran di pipi putihnya.
“ Sayang, sudahlah. Mungkin jalannya memang harus seperti ini. Ikhlaskan saja”
“ Dewi sahabatku, mas. Bahkan lebih dari sahabat. Dia dewi penolongku. Dulu, dia merelakanmu demi aku, demi anakku, dan demi kehormatanku. Dia menyelamatkan hidupku. Sekarang, mengapa ia rela mencelakakan hidupnya sendiri?”
“ Aku tahu dia merelakan aku untuk jadi suamimu. Aku tahu dia berharga. Tapi lihat, ternyata dia sendiri tak menganggap hidupnya seberharga itu!”
“ Aku tetap tak percaya dia mengakhiri hidupnya sendiri! Lihat! Lihat surat ini! Surat ini tak menggambarkan seseorang yang ingin cepat pergi! “
“ Ratu! Hadapilah! Terima kenyataan ini! Dewi bunuh diri!”
“ Mas Ferdy, sudahlah! Aku sedang tak ingin berdebat! Aku ingin sendiri. Lebih baik, mas menenangkan mas Aji saja. Tampaknya, ia masih belum bisa menerima kepergian istrinya”
“ Ya sudahlah, kalau itu memang maumu…”
Ferdy beranjak. Ia menghampiri Aji yang sedang menangis meraung-raung. Ia mendekatinya. Ia menatapnya. Ia merangkulnya. Aji hanya menatap kosong.
Sungguh Tuhan, aku tak kuat lagi. Aku hanya tak kuat lagi. Aku tak kuat melihat lipstick merah darahnya. Aku tak kuat lagi menghirup bau parfum nomor satunya. Aku tak kuat lagi melihat lekuk-lekuk tubuhnya yang nyaris sempurna. Aku tak kuat lagi memikirkannya yang selalu keluar-masuk klinik-klinik ternama untuk merubah semua karunia-Mu yang ada pada raganya. Aku tak kuat lagi. Sungguh. Dan Tuhan, aku tak sengaja. Sungguh, aku tak sengaja. Aku tak sengaja berkeluh kesah kepada temanku. Aku tak sengaja jatuh hati kepada temanku itu. Aku tak sengaja menjalin cinta dengan temanku itu. Aku tak sengaja bercinta dengan temanku itu dengan berahi yang membara. Seperti aku tak sengaja pula, ketika mengoleskan racun itu pada rokok istriku.“ HAHAHAHAHAHA!”
“ Aji, sudahlah. Bukankah ini yang kita mau?”
Ferdy semakin mempererat rangkulannya di pundak Aji.
“ HAHAHAHAHAHA!”
“ Aji! Berhentilah berlaku seperti orang gila!”
“ HAHAHAHAHAHA!”
“ Aji! Kau memang sudah gila! AJI! AJI!!!”
“ HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA”
Tawa Aji membelah siang yang kelabu itu. Tawa itu bergema, terus bergema. Bergema hari ini. Bergema esok hari dan esoknya lagi, karena tawa itu tak akan pernah berhenti bergema untuk selamanya.
Catatan kamarku’ 04/ 07Neng